Sederhananya, kita dikasih daya ingat ya digunakan untuk belajar. Belajar dari kesalahan di masalalu, supaya tidak jatuh lagi ke lubang yang sama di masa depan.
Hai semu,
Aku kalah menjaga kesepakatan kita bahwa ini hanya akan melelahkan dan menyakitkan. Aku diam-diam membiarkanmu masuk ke ruang tamu di hatiku, mempersilakanmu duduk, berbincang sedikit tentang cinta dan sejak saat itu wangi tubuhmu memenuhi sudut-sudut ingatanku. Tutur bahasamu, tertawamu, kacamatamu. Aku mulai menginginkanmu sekaligus ingin menjadi apa yang kauinginkan.
Bahkan untuk tahu kita ini apa dan akan bagaimana, di sana ada ketakutanku kehilanganmu. Aku hanya ingin menjadi sandaran ternyaman bagimu, meski di dalam hatimu, ruang untukku begitu sempit, gelap, tak terlihat. Iya, aku nyaman dengan ketidakjelasan kita. Di mana aku bisa terima, masih ada bayang dirinya, yang telah lebih dulu menemani langkahmu. Melupakannya, jelas bukan keahlianmu.
Jika suatu hari nanti, hidupmu tak bisa lagi melaju kecuali dengan meninggalkanku, pastikan telingamu terbiasa tanpa kabar dariku. Maka aku akan tersenyum, menikmati lagi tahap demi tahap perkenalan kita di kala sebelumnya. Biar waktu yang menggerogoti kenangan itu hingga habis.
Kau adalah sekilas, yang tak kumengerti caranya untuk membuatmu singgah sedikit lebih lama.
I miss you, G. there are times when I miss you, even when I had someone new. It’s not because you’re the best, but because we made memories together.
Saya nggak tau mau nulis apa sebenarnya.
Di kepala saya cuma… Saya mau bilang kalau…
Saya cinta kamu,
Lahir batin.
Dunia akhirat.
Secinta itu.
Kamu bagian paling manis yang pernah ada, datang dan menetap di hidup saya.
Kamu satu-satunya yang membuat saya percaya bahwa saya akan menghabiskan seluruh waktu yang Tuhan kasih bersama kamu.
Saya akan tumbuh dengan kamu,
Mendampingi kamu dan berusaha menjadi pria terbaik.
Saya ingin kamu tau kalau…
Iya, saya secinta itu sama kamu.
Terima kasih untuk keyakinannya bahwa bersama saya kamu akan bahagia.
“Jangan ngeliatin aku. Aku jelek.”, ujarku. Kuraih dagumu untuk mengarahkan pandanganmu ke hal-hal lain di sekitar kita.
“Cantik, kok.” , katamu penuh senyum. Senyum yang teduhnya amat kuhafal. Kau lagi-lagi memandangiku. Aku mengerti, waktu kita tak lebih dari lima kali putaran lagu kesukaanmu. Sebelum akhirnya aku harus menunggu lagi, untuk bisa menikmati senyummu lebih dekat.
“Badanku gendut, pipiku tembem dan jerawatan. Hidungku pes..”
“Aku suka.”, kau memotong kalimatku sambil mengusap kepalaku. Aku terdiam. Toh, aku hanya mampu terdiam. Meresapi nyaman yang kau alirkan lewat tanganmu yang hangat.
Selamat malam, Rindu
Ingatkah kau pada bangku kayu, rerumputan yang basah dan kemeja lengan panjang yang kau gulung hingga siku di hari itu?
Sebelumnya, kata “kita” tak pernah kumaknai sedalam ini.
Ini rinduku yang kuikhlaskan, atas malam demi malam yang kau lewatkan di sampingnya, wanita beruntung yang berkesempatan memilikimu.
“Jangan terlalu mencintaiku. Cintai dirimu sendiri.”, begitu pesanmu. Agar aku tak terlalu sakit ketika merindumu, menginginkanmu terlalu dalam atau sakit lainnya yang bersumber dari kecintaan keterlaluanku terhadapmu.
Haha. Aku tertawa dalam hati. Kamu orang pertama yang meminta hal itu. Aku bahkan tak pernah terpikir untuk meminta orang yang aku cinta (kamu) untuk tak begitu cinta aku.
Kamu tau rasanya menjadi gerimis yang tak pernah bisa memiliki hujannya sendiri? Seperti bernapas dalam ruang hampa udara. Seperti bernyawa tapi tak memiliki hidupku sendiri. Seperti berkehendak tapi bukan untuk apa yang sebenarnya aku mau.
Lalu kamu datang dengan segala kenyamananmu. Di mana denganmu, kepura-puraanku tak ada harganya lagi. Menjadi aku yang benar-benar aku. Melakukan apapun yang membahagiakan. Berada di titik ini, sekarang, bersamamu. Pelarian terindahku dari segala tuntutan dan paksaan.
Memintaku tak terlalu mencintaimu? Maaf, tapi itu sulit.
Ada satu hal yang dilupakan mahasiswa yang suka demo, yaitu Ariel. Seharusnya Ariel ini di-demo karena lagu yang dipopulerkannya. Ingat lagu yang berjudul “Tak Ada Yang Abadi”? Ini suatu bentuk penghinaan besar menurut gue. Dia seenak-enaknya bilang tak ada yang abadi, sementara ya, masih banyak mahasiswa abadi di negeri ini. Fyuhh..
A raisin is a grape that’s lost the will to live.